Barista4 menit baca
Kenangan

Racikan Pertama

"Setiap racikan adalah doa yang tidak kita sadari. Kopi pertama yang kubuat bukan untuk pelanggan, tapi untuk nenek yang tidak pernah datang lagi."

Untuk Yang PergiWildan Ferdiansyah

Hari Pertama di Balik Mesin

Aku masih ingat hari itu. Bukan karena pelanggan pertamaku, atau karena kecelakaan kecil dengan susu yang panas.

Aku ingat karena nenek.

Dia datang sendirian, jam sepagi. Mengenakan kebaya ungu yang kusam di pundaknya, tongkat kayu di tangan kirinya. Umurnya mungkin delapan puluh, mungkin lebih.

Aku belum bisa membuat kopi dengan baik waktu itu. Tangan ku gemetar, tekanan gilingan ku kacau, ekstraksi ku terlalu cepat.

Tapi nenek duduk di bar. Menunggu. Menatapku dengan sabar, seperti menatap cucu yang sedang belajar berjalan.

"Tidak apa-apa, sayang," katanya. "Aku tidak buru-buru."

Tiga kali aku gagal. Tiga kali dia menunggu. Tidak mengeluh, tidak meminta diganti. Hanya tersenyum dan bilang, "Coba lagi, pelan-pelan."

Kopi keempat — yang masih jauh dari sempurna — akhirnya kuberikan. Dia minum perlahan. Seperti ritual. Seperti doa.

# Rutinitas

Setelah itu, setiap Kamis pagi, nenek datang. Selalu jam delapan. Selalu kebaya ungu yang sama — atau mungkin dia punya banyak kebaya ungu yang serupa. Selalu duduk di stool yang sama, di sudut bar, menghadap jendela.

Aku belajar membuat kopi yang lebih baik karena dia. Bukan karena tekanan untuk sempurna, tapi karena aku ingin dia minum sesuatu yang layak. Sesuatu yang mengatakan, "Terima kasih sudah menunggu. Terima kasih sudah percaya."

Pesanannya

Kopi Tubruk

Tidak pakai gula. Tidak pakai susu. "Biar aku rasakan aslinya," katanya.

Yang Dibawanya

Buku Tua

Selalu buku puisi. Dia baca sambil menunggu kopinya dingin sedikit.

# Yang Tidak Datang

Kamis ke-12

Dia tidak datang.

Aku sudah menyeduh kopinya. Tubruk, tidak pakai gula, dalam cangkir keramik putih yang kusukai. Aku letakkan di stool kosongnya, menghadap jendela, seperti biasa.

Jam delapan lewat lima. Jam delapan lewat sepuluh. Jam sembilan.

Kopi itu dingin. Aku yang menghabiskannya. Pertama kalinya aku minum racikanku sendiri sambil menangis diam-diam di balik bar.

"Setiap racikan adalah doa. Doa untuk yang minum. Doa untuk yang menunggu. Doa untuk yang sudah tidak bisa kita seduhkan lagi."

Untuk nenek berkebaya ungu — di mana pun Anda berada.