Di Ujung Shift
"Capeknya bukan di tangan. Capeknya di kepala, di senyum yang dipaksakan, di 'baik-baik saja' yang terucap otomatis."
Ketika Kaki Mulai Bicara
Jam sembilan malam.
Dua jam lagi.
Tidak terasa lama, tapi tubuhku sudah mulai berhitung mundur sejak jam enam sore tadi.
Kakiku — yang sejak pagi berdiri di lantai keramik dingin — mulai mengirim sinyal. Bukan sakit yang tajam. Bukan lelah yang bisa dijelaskan. Tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih menyeluruh.
Seperti ada batu kecil yang mengendap di telapak kaki, menekan urat-urat kecil yang tidak kumiliki nama untuknya.
Aku sering berpikir, kalau kaki bisa berbicara, mereka pasti sudah mengumpat sejak jam tiga sore. Mereka pasti sudah bertanya: sampai kapan? Berapa lama lagi? Kenapa kita harus terus menopang?
Tapi kaki tidak bisa bicara. Jadi mereka hanya berdenyut. Mengirim rasa kesemutan yang bukan kesemutan. Menjadi berat, seperti ada gravitasi ekstra yang hanya bekerja pada tubuhku.
Senyum yang Tersisa
Satu jam lagi. Pelanggan mulai berkurang. Meja-meja yang sejak tadi penuh dengan suara tawa dan percakapan mulai kosong satu per satu. Aku seharusnya lega. Tapi lega adalah kemewahan yang belum bisa kurasakan.
Karena di ujung shift, bukan berarti pekerjaan selesai. Ada yang namanya cleaning. Ada restock. Ada meja-meja yang harus dilap, lantai yang harus dipel, mesin yang harus dibersihkan dengan cermat — seolah-olah kita tidak sudah berdiri delapan jam.
"Masih bisa order, Kak?"
Seorang pelanggan datang, jam sepuluh lewat seperempat. Aku ingin mengatakan tidak. Aku ingin mengatakan mesin sudah dingin, bahwa aku sudah lelah, bahwa kakiku sudah tidak merasa.
Tapi yang keluar adalah senyum. Senyum yang sama persis dengan yang kupakai jam sepagi tadi, hanya sekarang lebih berat, lebih mahal harganya.
Aku membuat kopi itu. Dua puluh menit. Dua puluh menit ekstra berdiri. Dua puluh menit ekstra tersenyum. Dua puluh menit yang mengambil sisa tenagaku yang seharusnya disimpan untuk perjalanan pulang.
Akhirnya. Jam sebelas. Kunci gemerencet. Lampu padam. Aku duduk di tangga belakang, sepatu sudah terlepas, kakiku mengembang — begitulah rasanya, seperti balon yang terlalu lama diisi udara.
"Delapan jam berdiri. Delapan jam tersenyum. Delapan jam menjadi versi terbaik dari diriku — padahal aku sudah lupa diriku yang sebenarnya seperti apa."
Besok, kita ulangi lagi.