Meja Kosong
"Kita bukan cuma bikin minuman. Kita jadi saksi hidup orang. Dan kadang, kita jadi satu-satunya yang memperhatikan ketika mereka pergi."
Rutinitas yang Tidak Ditutupi
Ada meja di sudut dekat jendela.
Meja nomor tujuh. Dua kursi. Satu lampu gantung kecil di atasnya yang selalu kusaklar sedikit lebih redup dari yang lain.
Setiap Kamis malam, selama setahun terakhir, meja itu ditempati oleh seorang pria. Usianya sekitar empat puluhan. Rambut mulai menipis. Selalu mengenakan kemeja flanel biru — atau mungkin dia punya banyak kemeja flanel biru yang sama.
Dia tidak pernah datang bersama siapa pun. Tapi dia selalu memesan untuk dua.
"Dua whiskey sour," katanya setiap kali. "Satu dengan es, satu tanpa."
Yang tanpa es selalu dia letakkan di kursi kosong di depannya. Tidak diminum. Hanya didiamkan di sana selama dua jam. Kadang dia berbicara pada gelas itu. Kadang dia hanya menatap.
Kami — para staf bar — tidak pernah bertanya. Itu aturan tak tertulis. Tapi kami mengamati. Kami menyimpulkan. Kami menciptakan narasi-narasi kecil di kepala kami tentang pria di meja nomor tujuh.
Teori 1
Saudara Kembar
Yang satu meninggal. Yang hidup masih memesan minuman untuk yang mati. Seperti janji yang tidak bisa dilupakan.
Teori 2
Cinta yang Pergi
Dia dan seseorang janjian di sini setiap Kamis. Lalu orang itu pergi. Tapi dia masih datang. Masih memesan untuk dua.
"Tidak pernah ada yang tahu cerita sebenarnya," kata seniorku, yang sudah bekerja di sini lima tahun. "Dan kita tidak boleh tanya. Tapi lihatlah caranya memegang gelas kedua — seperti memegang tangan."
"Itu bukan untuk saudara. Itu untuk seseorang yang pernah dicintai."
Kamis Ke-53
Meja nomor tujuh kosong.
Jam delapan malam. Jam sembilan. Jam sepuluh. Kursi itu tetap kosong. Tidak ada kemeja flanel biru. Tidak ada whiskey sour ganda. Tidak ada percakapan diam dengan gelas yang tidak diminum.
Aku membersihkan meja itu tiga kali malam itu, lebih sering dari biasanya. Bukan karena kotor. Tapi karena aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa seperti kehilangan sesuatu, padahal dia bukan milikku. Bukan pelanggan setia dalam arti bisnis. Tapi dia adalah bagian dari rutinitas. Bagian dari kamis. Bagian dari cerita bar ini.
Kami tidak pernah melihatnya lagi.
Yang Tersisa
Kini, setiap Kamis, aku selalu menyisihkan meja nomor tujuh selama satu jam pertama. Mengelapnya dua kali. Menyalakan lampu gantung sedikit lebih redup. Siapkan dua gelas — meski tidak ada yang memesan.
"Siapa tahu," kataku pada diri sendiri. "Siapa tahu suatu hari dia kembali. Atau siapa tahu... dia sudah tenang di tempat yang lebih baik, bersama si pemilik gelas kedua."
Untuk Pria Berflanel Biru
Semoga kamu bertemu lagi.
Dimanapun itu.