sebuah pengakuan
Kadang kita berhenti nulis… bukan karena gak punya kata.
Tapi karena takut gak ada yang peduli.
Catatan dari tubuh yang lelah
Badan bau keringat. Layar ponsel masih perih di mata. Alarm pagi belum sempat dilupakan. Kopi instan dingin di meja, sudah kehilangan uapnya sejak jam yang lalu. Aku mengirimkannya sebagai tautan—kadang hanya satu kalimat, kadang tanpa pesan apa-apa.
Kelas pekerja menulis dari sisa. Sisa tenaga yang tidak cukup untuk tidur nyenyak. Sisa waktu yang tidak dimiliki siapa-siapa. Sisa pikiran yang belum habis dipakai bekerja. Kami menulis bukan karena yakin, tapi karena diam-diam tahu: kalau tidak ditulis, hari ini akan hilang.
Sisa tenaga.
Yang tidak cukup untuk tidur nyenyak
Sisa waktu.
Yang tidak dimiliki siapa-siapa
Sisa pikiran.
Yang belum habis dipakai bekerja
Tulisan kami lahir dari tubuh yang ingin rebah tapi masih memaksa duduk. Karena itu, ia tidak pandai meminta perhatian. Ia hanya diam, menunggu, dan kadang—ketika dunia luar melewatinya begitu saja—rasanya masih bisa diterima.
Ketika diam lebih mudah
"Kita berhenti bukan karena lelah menulis."
"Kita berhenti karena lelah berharap."
Ada malam-malam di mana draft sudah terbuka tapi jari tidak bergerak. Bukan karena tidak ada yang mau dikatakan. Tapi karena pertanyaan itu muncul lagi: untuk siapa? Kalau yang terdekat saja tidak membaca, kenapa masih menulis?
Titik berhenti bukan saat pena kering. Titik berhenti adalah saat kita mulai menghitung: berapa lama lagi sampai ada yang peduli? Dan jawabannya terlalu sering: mungkin tidak pernah.
“Paling sakit bukan saat tulisan gak dibaca.
Paling sakit saat kita berhenti nulis… dan ternyata gak ada yang nyadar.”
Tapi di situlah letaknya. Di titik paling rendah, di saat berhenti tampak seperti pilihan paling masuk akal—kita justru menemukan alasan paling jujur untuk lanjut: bukan untuk dibaca, tapi untuk tidak mati dalam diam.
Tentang mereka yang melihat tapi tidak berhenti
Ada orang yang paling dekat. Yang melihat lelahku tanpa perlu aku jelaskan. Buku itu ada di sana, berbulan-bulan. Aku tidak pernah bertanya. Karena aku tahu, jawabannya akan lebih menyakitkan jika diucapkan.
Kadang, yang paling sunyi bukan tidak dibaca, tapi disadari bahwa bahkan yang terdekat pun tidak sempat berhenti.
Mereka yang paling mengenalmu adalah mereka yang paling tahu bagaimana mengabaikanmu tanpa terlihat kejam. Mereka melihat tautan itu, mungkin bahkan mengkliknya, tapi tidak pernah memberi tahu. Dan diam-diam, kau berterima kasih atas kebijaksanaan mereka—karena keheningan itu lebih ringan daripada penolakan.
Tentang ketidakberhentian dan ketidaklihatan
Kalau yang dekat saja tidak sempat, aku tidak tahu apa yang bisa kuharapkan dari dunia yang asing. Dunia tidak kejam. Ia hanya tidak berhenti. Dan yang tidak berhenti jarang sempat melihat apa yang lahir pelan.
"Menulis pelan itu gak masalah.
Yang bahaya itu berhenti."
Algoritma tidak mengenal lelah. Feed terus bergulir, notifikasi terus berdering, konten terus lahir dan mati dalam hitungan detik. Di tengah laju itu, sebuah tulisan yang lahir dari kopi dingin dan mata lelah adalah hal yang paling tidak relevan—dan karena itu, paling jujur.
Mungkin ini bukan tentang dunia yang salah. Mungkin ini tentang kita yang memilih untuk tetap menulis, meski tahu dunia sedang tidak sempat membaca.
Buku ini tidak meminta perhatian. Ia juga tidak ingin dipahami. Ia hanya ingin jujur.
Dan jika suatu hari seseorang membacanya dalam keadaan lelah, dalam keadaan sepi, dalam keadaan tidak yakin akan apa-apa—itu sudah cukup.
"Kalau hari ini lo cuma bisa nulis satu kalimat…
itu juga udah cukup."
Ia tetap ditulis. Meski lewat begitu saja.
Gak apa-apa pelan.
Yang penting lo gak berhenti.
Karena setiap perasaan butuh tempat tersendiri
"Kalau lo lagi ngerasain hal yang sama…Mulai Nulis
tulis aja. Pelan-pelan juga gak apa-apa.
Gak perlu sempurna.
Yang penting, jujur."
Gak ada yang bakal nilai. Gak ada yang bakal judge.
Ini cuma buat lo. Dan mungkin, buat yang butuh dengar.
Putar lagu yang telah dikurasi ini untuk menemani perasaan yang ditinggalkan oleh cerita ini.