Catatan Malam
Sayap yang telah gugur di ambang kesunyian.
Malam ini turun dengan cara yang berbeda dari malam-malam yang sudah-sudah. Ada bobot yang tak biasa di dalamnya, seolah langit sendiri sedang menahan napas, menunggu sesuatu selesai diucapkan sebelum ia mengizinkan dini hari datang. Aku duduk di depan layar yang masih menyala, di antara baris-baris manuskrip yang belum sempat kurampungkan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak tahu lagi kalimat apa yang hendak kutulis.
Kopi di gelasku telah lama kehilangan hangatnya. Lucu sekali—betapa banyak hal dalam hidup yang akhirnya mendingin semata-mata karena kita terlalu lama menatapnya, alih-alih meminumnya selagi masih ada waktu.
Barangkali begitu pula dengan hati. Barangkali begitu pula dengan kita.
Ada ruang yang tiba-tiba menganga di tengah dada. Bukan luka yang berdarah—sebab luka semacam itu masih menyisakan sesuatu untuk ditekan, untuk disembuhkan, atau untuk sekadar dibuktikan bahwa ia pernah ada. Yang ini berbeda: sebuah kekosongan yang tidak berbunyi, yang tak bisa diisi oleh derau mesin, oleh ketikan aksara, ataupun oleh hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur.
Aku masih menyimpan satu kepercayaan lama, sebagaimana anak-anak menyimpan dongeng sebelum tidur: bahwa dua jiwa yang ditakdirkan bersua akan selalu menemukan jalan pulang satu sama lain, walau dipisahkan oleh berapa pun lautan.
Senyummu yang tenang—tidak berlebihan, tidak mencari-cari perhatian, hanya hadir sewajarnya seperti cahaya pagi yang menyelinap dari sela gorden—pernah mekar bagai musim semi yang singkat di tengah dadaku yang telah lama kemarau. Kusimpan ia diam-diam, tanpa berani berharap ia akan bertahan lebih lama dari satu musim.
Kini aku mengerti. Bukan senyum itu yang keliru. Yang keliru adalah aku, yang terlalu berani menaruh mimpi panjang pada sesuatu yang sejak semula hanya ditakdirkan untuk singgah.
Sebab kita, kutahu sekarang, hanyalah dua musafir yang kebetulan berpapasan di satu dermaga senja—saling mengagumi cahaya masing-masing sejenak, sebelum kapal kita melanjutkan haluan yang berbeda. Kau menatap ke arah kaki langit yang jauh, ke arah dunia luas yang sudah lama memanggil namamu. Aku tetap berdiri di sini, di tanah yang sama sejak aku lahir, memeluk bayanganmu yang perlahan pudar ditelan jarak dan kabut laut.
Cinta jarang keliru menaruh dua jenis burung dalam satu senja. Yang sering keliru hanyalah harapan kita sendiri, yang keras kepala mengira keduanya bisa memiliki langit yang sama.
Aku tidak menyalahkanmu untuk itu. Ada burung yang memang dilahirkan untuk mengarungi musim, mengikuti garis migrasi yang sudah tertulis jauh sebelum mereka sempat mengerti artinya sendiri. Dan ada pula yang dilahirkan untuk tinggal—menjaga dermaga, menyalakan lampu bagi kapal-kapal yang pulang, membiarkan angin muson lewat tanpa pernah benar-benar ikut terbang bersamanya.
Maka, sempat kuputuskan untuk melawan takdirku sendiri. Kukumpulkan sisa napas dan keberanian yang kupunya. Kurentangkan apa yang tersisa dari sayapku, bersiap menyeberangi lautan badai menujumu—hanya untuk mendapati, sebelum sayap itu sempat terkepak sekali pun, kau telah menutup jendelamu, perlahan namun pasti.
"Kita tidak sedang memandang langit yang sama," katamu, dengan suara yang tetap lembut, tanpa amarah, tanpa keinginan untuk melukai.
Kau memintaku menyimpan nyala ini untuk perapian yang lain, di suatu hari, di suatu tempat yang belum kutahu.
Aku pikir aku akan lebih siap menghadapi penolakan yang datang dengan suara keras—dengan pintu yang dibanting, dengan kata-kata yang bisa kubalas atau kusesali bersama. Tapi penolakan yang datang selembut ini tidak menyisakan apa pun untuk dilawan. Tidak ada perang yang bisa kunyatakan usai. Tidak ada musuh yang bisa kutuduh atas jatuhnya seorang pengelana yang terlalu percaya diri hendak menyeberangi laut. Aku hanya tenggelam, sunyi-sunyi, ke dalam satu kesadaran: bahwa tidak ada yang bisa diperjuangkan atas nama seseorang yang sudah menentukan arah anginnya sendiri.
Maka karena aku mencintaimu—bahkan dalam kemustahilan yang pahit ini—aku memilih diam. Aku menghentikan langkahku tepat ketika aku baru saja belajar caranya berlari ke arahmu. Kutarik kembali kata-kata yang sempat tumpah di ujung lidah, kulipat ia serapi mungkin, dan kusimpan di laci paling dalam dari arsip sunyi tempat aku tinggal sekarang.
Sebab mencintai seseorang, kupikir, tidak selalu berarti memintanya untuk tinggal. Kadang mencintai berarti membiarkan seseorang menyelesaikan pelayarannya sendiri—meskipun itu berarti pelayaran itu tidak akan pernah menyertakan namamu di dalam daftar pelabuhan yang ia singgahi.
Sekarang tidak ada lagi harapan yang berisik. Perasaanku padamu tidak mati—ia hanya kehilangan suaranya, seperti lonceng dermaga yang masih berdiri meski tak ada lagi kapal yang singgah.
Aku akan kembali pada pekerjaanku, pada rutinitas malam yang hening, menjadi manusia biasa yang merawat sendiri patah hatinya, di antara baris-baris manuskrip yang harus tetap dirampungkan meski hati sedang tidak utuh.
Namamu akan tetap menjadi bait terindah yang pernah kutulis. Tapi ia juga akan menjadi satu-satunya puisi yang kupilih untuk tidak pernah lagi kubacakan dengan suara lantang. Cukup untukku saja. Cukup untuk malam-malam seperti ini, ketika kopi mendingin dan manuskrip menunggu diselesaikan oleh seseorang yang baru saja belajar menulis dengan hati yang retak.
Biarlah Tuhan yang menyimpan sisa cerita kita, sebagaimana Ia menyimpan seluruh cerita yang dipaksa selesai sebelum sempat benar-benar dimulai.
Di duniaku malam ini, kisah itu telah usai, bahkan sebelum bab pertamanya sempat kutulis sampai titik. Dan barangkali begitulah caranya sebagian cerita memang harus berakhir: bukan dengan luka yang menganga, melainkan dengan kesunyian yang, pada akhirnya, punya keindahannya sendiri.
Putar lagu yang telah dikurasi ini untuk menemani perasaan yang ditinggalkan oleh cerita ini.